pada suatu hari hidup’lah seorang putri yang tidak mempunyai wajah cantik, tetapi tidak buruk rupa. Meskipun memiliki wajah biasa, dia memiliki pengetahuan yang luas dan juga sangat pandai dalam segala hal. Dia hidup dalam sebuah keluarga bangsawan kelas atas, keluarga yang sangat berpengaruh dalam struktur pemerintahan saat itu.
Setiap hari, entah mengapa..., dia selalu merasakan bahwa hidupnya hanya dipenuhi kebohongan belaka. Teman, sahabat, kekasih. Dia tidak pernah merasakan semua itu. Setiap orang yang berusaha mencoba mendekati dirinya, hanyalah karena dia anak orang kaya yang punya banyak kelebihan. Karena itu didalam hidupnya dia merasakan kesepian, tidak ada satu’pun orang diluar sana yang dapat dia percaya. Dia ingin mengadu ke orang tua’nya, tetapi dia tidak ingin mengecewakan mereka. Sungguh berat sekali perasaan yang dia rasakan saat itu.
Hingga pada suatu hari dia bertemu dengan seseorang, pria biasa yang tidak terkenal dikalangan siapa’pun. Pria tersebut adalah teman sekelasnya, dia jarang dikenal dan tidak mempunyai teman akrab disekolah tersebut. Setahu dia pria itu masuk sekolah ini berkat beasiswa yang didapatkan dari sebuah prestasi, aneh sekali jika siswa berprestasi tidak terkenal dikalangan siswa lain. Karena melihat pria itu tidak memiliki teman, akhirnya dia memutuskan untuk menjadi teman’nya.
Setiap hari wanita itu selalu mendekati pria tersebut, menawarkan bantuan jika kesulitan menghadapi tugas, mentraktir makan, dan hal lain’nya, yang biasa dia lakukan dengan teman - teman disekeliling dirinya. Namun tidak seperti orang biasa’nya yang langsung menerima pemberian wanita tersebut, pria itu justru menolak dan mengatakan bahwa dia berusaha untuk bisa melakukan’nya sendiri. Wanita itu bertanya – tanya dalam diri’nya, tidak biasa orang disekitar’ku menolak dengan apa yang kuberikan, bahkan orang yang penuh dengan kebohongan sekalipun pasti akan menunjukan sisi penjilat’nya.
Setelah sekian lama, usaha untuk mendekati pria tersebut akhirnya membuahkan hasil, wanita itu mulai dekat dengan’nya, tetapi tetap saja pria itu jarang meminta bantuan darinya. Walaupun sikap pria itu agak dingin, mereka lebih sering terlihat menghabiskan waktu bersama saat disekolah. Karena sering terlihat bersama, semua orang disekolah’nya bertanya – tanya, apakah mereka sudah menjadi sepasang kekasih dan kenapa pria tersebut bisa bersama dengan dia.
Akhirnya pertanyaan tersebut sampai ketelinga’nya, mereka bertanya apakah betul jika pria tersebut adalah kekasih wanita itu, wanita itu menjawab “tidak”. Lalu mereka’pun mengatakan kepada dia, supaya jangan mendekati pria itu lagi, tetapi kenapa, bukankah dia orang yang baik. Sebenarnya bukan itu permasalahan yang dimaksud teman’nya, tapi karena pria tersebut adalah orang yang miskin, dan mereka menganggap jika pria tersebut sangat memalukan sekali hanya bisa masuk kesekolah elit dengan bermodal beasiswa. Mendengar perkataan mereka, wanita itu merasa tidak bisa menerima semua yang telah mereka katakan.
Karena mendengar kabar yang beredar, perlahan – lahan pria tersebut mulai menjauh dari wanita yang sering menemani’nya, dia sadar jika mereka berada di status tingkatan yang berbeda, namun wanita itu tetap saja mengikuti’nya bahkan dia ingin supaya pria itu jangan mendengarkan perkataan setiap orang yang ada di sekolah tersebut. Tapi tetap saja pria itu merasakan kesenjangan diantara mereka. akhirnya pria itu memutuskan supaya wanita itu jangan lagi terlalu dekat dengan diri’nya, karena bisa berakibat nama keluarga wanita itu akan tercoreng. kemudian wanita itu’pun pergi dari hadapan’nya, meninggalkan dia sendiri dalam kehampaan. Pria itu sebenarnya tidak terlalu miskin hanya saja, jika bersekolah ditempat elit seperti itu, tentunya keluarga dia tidak bisa membayar biaya pendidikan’nya. Karena itu dia mengambil jalur prestasi untuk meringankan beban orang tua’nya. Kegiatan yang biasa dia lakukan adalah bekerja disalah satu restoran sederhana milik teman’nya. Sebagai biaya untuk mencukupi kebutuhan keluarga’nya, dia merasa tidak nyaman jika selalu mengandalkan mereka untuk terus membanting tulang mencari nafkah, sehingga dia’pun berinisiatif untuk meringankan beban keluarga’nya. Hidup’nya memang penuh dengan kerja keras.
Hari telah berganti, mereka tidak lagi terlihat bersama sedikit’pun. sebentar lagi kegiatan sekolah mereka akan habis setelah melewati tahun ajaran yang baru. setelah memikirkan beberapa hal ayah gadis itu’pun memutuskan untuk menjodohkan anak’nya dengan salah satu pimpinan muda dinegara tetangga, mendengar hal tersebut, gadis itu mendengarkan perkataan ayah’nya, karena hanya itu yang dia bisa lakukan sebagai calon penerus keluarga’nya kelak. agar bisa menyandang nama keluarga’nya, dia harus memiliki seorang pria dengan tingkat yang setara derajat’nya dengan diri’nya, dengan begitu dia dianggap pantas dikeluarga tersebut.
Berpikir semua’nya baik – baik saja, seperti’nya salah besar. Wanita itu mendengar beberapa percakapan pasangan’nya barusan. Pria itu menganggap bahwa wanita itu tidak lebih hanya alat untuk melebarkan sayap kekuasaan’nya, bagaimana dengan kecantikan’nya wanita itu bahkan dianggap’nya tidak lebih dari wanita jelek yang ada dijalanan, hanya saja sebagai tolak ukur’nya dia memiliki kejeniusan yang lebih baik, dengan begitu dia masih bisa digunakan. Tidak hanya calon tunangan’nya bahkan seluruh orang yang ada didekat’nya menganggap bahwa dia tidak lebih dari alat yang bagus saat masih digunakan, dan dibuang saat sudah rusak.
Dia berlari ditengah hujan yang turun dengan deras, angin malam berhembus dengan kencang. Air mata’nya mengalir membasahi pipi’nya yang merah merona, dia masih terus berlari hingga terjatuh tidak berdaya, digenangan air yang dingin. Hati’nya bertanya untuk apa dia dilahirkan jika hanya dianggap sebagi alat untuk memenuhi tujuan. Seluruh tubuh’nya basah, hujan yang dia rasakan semakin turun dengan deras, deras sekali hingga menusuk tubuh’nya.
Seorang laki – laki memberikan’nya tempat berteduh dengan payung yang sangat sederhana, bisa dibilang payung itu sangat banyak sekali dirumah’nya. Untuk pertama kali’nya, pria itu berkata “ kau seperti’nya kedinginan ayo cepat berteduh, nanti kau bisa sakit”.........
Kata – kata yang selama ini belum pernah dia dengar dari seluruh teman’nya, Terucapkan lewat pria ini.
Dia menangis meluapkan seluruh kesedihan’nya ditengah hujan yang deras, dan didepan seorang pria biasa yang memiliki harga rendah dimata setiap orang.